Anugrah kekudusan
Jangan salah faham dengan istilah anugrah kekudusan ini, sebab demikianlah keterbatasan bahasa menerjemahkan fadlilillah (keutamaan) yang dianugrahkan kepada seorang anak manusia yang dikehendaki. Fadlillah Al Qudsiyah adalah pemberian nikmat terbesar pemberian nikmat terbesar Allah Jallajalaluhu kepada makhluk al insan (manusia). Anugrah ini telah datang kepada sekalian manusia, diseluruh mukaa bumi ini-termasuk anda ! dia berupa Ruh alqudus (QS: 2:87) yang telah lama menguatkan hidup manusia tinggal dialam dunia. Semenjak ditaruh dalam badan dinamailah ia Ruh Al-Insan, karena terhukumi oleh sifat-sifat jisim (materi) yang meracik unsure-unsur penciptaan manusia. Subtansinya tetap sama. Sifat-sifat kesucian (Qudus) sebenarnyaa tetap bersemayam dalam bathin manuisa, selama Ruh ini tetap member Harakah (pergerakan) kehidupan Ruhaniyah pada diri manusia. Harakah Ruhaniyah itu berupa kesucian (Fitrawi), kecendrungan pada kesatuan dan pengesaan Allah (Tauhid), keagungan (Lahut), kasih sayang, dan keqodiman setelah ke Qodiman Allah. Ruh ini ternyata amanat dari Allah yang harus tetap dijaga kelestarian gerak Ruhaniyahnya; jika tidak manusia kelak akan ditanya, ditanya, diminta pertanggung jawaban atas penelantarannya.
Lalu mengapa Ruh yang semula bernama Ruh Al-Quddus berubah nama menjadi Ruh Al-Insan? Al-insan adalah nama "daging" dan Ruh Al-Quddus adalah nama Hakikat yang dialamnya disebut hakekat Muhammadiyah. Sebutan Muhammad itu adalah nama hakikat, nama awal kali manusia. Nama ini identik dengan makhluk Allah yang "tahu berterima kasih, pandai bersyukur. Dia memuji Tuhannya- dan Tuhanpun memujinya." Gelaran atas derajat yang diterimanya ialah " Abdan syakuran" Hamba Allah yang senantiasa bersyukur. Maka kenyataan permulaan yang diciptakan ialah Ruh Muhammadiyah ini, karena masih suci diesbut Ruh AL-Quddus; darinya segala permulaan penciptaan diwujudkan. Semua makhluk dan alamnya diciptakan dari diciptakan dari dirinya. Ialah Al ashlu az-zatiyah itu.
Kemudian ia disemayamkan dalam alam malakut (kemalaikatan). Disana ia dipakaikan baju kebesaran malaikat; dikenalkan asma' (nama-nama) dan sifat-sifat zat yang maha agung. Dari sini, ia beroleh pengertian ,'ilmu dan faham hakikat dan tentang tauhid itu sendiri hinggapun ia diturunkan ke alam nasut ini ia mestinya tidak pernah lupa akan hal ini. Nah, difase inilah yang menyebabkan dirinya disebut dirinya Ruh Al-Insan.Yakni ketika ia mengalami proses tajsim yaitu proses "peracikan" dirinya (si Ruh Al-Quddus) dengan 4 [empat] "materi prima" [empat biang jisim]. Dia adalah anasir Tanah, Air, Udara, dan Api. Namun dalam penyebutan istilah anasir ini hanyalah simbolis belaka. Bukan merujuk pada materi fisiknya secara harfiah, melainkan pada sifat being nature anasir ini [dan segala karakternya], eternya ke empat menjadi penyeimbang dari masing-masing anasir mereka.
Dalam tradisi kimia ke 4 unsur ini disebut asal materi. Saat proses pencampuran inilah, antara jisim dan Ruh mulai menyatu, Ruh Al-Quddus mengalami kelupaan [nisyan]. Ia menemukan dirinya tampak dalam alam materi fisik. Karena tampak itu , penampakan baru ini disebut badan (bada=terlihat,tampak). Yang artinya jelas terlihat. Badnul Insan; tampaklah kekurangan-kekurangannya, kelemahan-kelemahannya.
Untuk mengurangi sifat lupa dan lalai, dia harus diajari syariat agama agar kembali kepada pengetahuan akan hakikat lalu bisa berma'rifat kepada Allah. Dengan demikian ia dapat memurnikan kembali ke fitrahannya, menyucikan kembali ke-Quddusannya. Akan tetapi karena ia berada dalam alam materi fisik yang diantara cirinya rusak, kotor [ busuk, seperti layaknya buah-buahan yang kelewat matang], berubah-ubah, maka ia harus benar-benar mengakui kehinaan duniawi, sebelum menjemput kemuliaan akhirat; mengakui kelemahan diri yang selalu luput dan khilaf. Dimana inilah yang dikehendaki Allah untuk menegaskan identitas yang sebenarnya Ruh AL-Quddus itu, yaitu Abdan Makhluqun. Dia tidak boleh mengenakan baju kebesaran (Takabbur) walaupun hakikatnya Quddus, karena itu kepunyaan Allah semata.