Bagaimana caranya supaya kita bisa berbuat IKHLAS? kita harus memiliki prinsip yang kuat bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Jika kita memiliki prinsip ini, sewaktu-waktu ada sesuatu yang paling kita cintai diambil oleh-Nya, kita cepat sadar dan berprasangka baik kepada-Nya. Untuk mampu melaksanakan ikhlas, kita harus mempunyai ilmu 'kembali ke Subyek'. Jika kita berpedoman hanya kepada obyek (sesama manusia), dalam menyelesaikan segala masalah, kita hanya akan saling menyalahkan dan berkeluh-kesah. Perbuatan ini dapat mengakibatkan tertutupnya jalan keluaryang akan diberikan oleh Allah.
Bila kita meyakini bahwa segala ujian datangnya dari Allah (kembali ke Subyek), dan kunci jawabannya untuk menyelesaikan masalah, maka kita akan berprasangka baik, berserah diri kepada-Nya dan memohon pertolongan untuk diberi jalan keluar yang terbaik. Dengan kemauan untuk menerima apa yang ditakdirkan Allah kepada kita dengan ikhlas, pastilah Allah akan segera memberikan jalan keluar yang tidak pernah kita duga. Dengan selalu berbuat ikhlas dalam segala tindakan, maka kita akan mampu menjadi manusia yang mampu melaksanakan sadar, tabah dan sabar.
Ibadah ikhlas ada tingkatannya. Yang pertama, orang yang kelihatannya tidak pernah berkeluh-kesah dan sangat pasrah menerima keadaan. Dia terlihat sangat ikhlas. Menerima keadaan tanpa pernah ada caci maki atau keluh kesah keluar dari mulutnya, tetapi jasmaninya tidak mau melakukan usaha (ikhtiar) apa-apa. Terlebih lagi jika orang tersebut hanya melakukan zikir dan doa saja, mengharapkan segalanya datang sendiri tanpa melakukan usaha apapun menggunakan jasmaninya.
Tingkat ikhlas yang seperti ini belum bisa dikatakan ikhlas yang sempurna. Jika perbuatan ini diteruskan, maka orang tersebut akan menjadi 'manusia yang memperalat Allah' atau menghendaki. Ia menganggap Allah hanya sebagai 'pembantu'nya yang akan menuruti segala kemauannya, mewujudkan harapan-harapannya.
Yang kedua yaitu orang yang melaksanakan ikhlas hanya ucapannya saja, hati atau tindakannya tidak ikut serta melakukan. Ia mengucapkan rasa ikhlas bukan murni dari dalam hatinya, namun hanya agar dikatakan bahwa dirinya adalah orang yang baik dan ikhlas—dia hanya mencari pujian manusia semata.
Yang ketiga adalah orang yang mampu melaksanakan ikhlas secara sempurna, yaitu orang yang di dalam hatinya ikhlas diikuti dengan jasmaninya. Ia selalu berikhtiar tanpa mengenal rasa putus asa. Orang vang seperti ini mampu menerapkan ilmu 'Kembali Kepada Subyek'. Sehingga mampu mengetahui maksud dan tujuan Allah menguji dirinya.
Ujian untuk menjadi manusia yang ketiga ini, yakni yang selalu ikhlas secara benar, dilakukan oleh Allah kepada manusia seumur hidup. Tanpa bantuan dari Allah Yang di lewatkan malaikat muqorrobin manusia tidak akan mampu melaksanakan. Di akhir zaman ini Allah menurunkan bermilyar-milyar malaikat muqorrobin untuk membantu kita supaya bisa melaksanakan ikhlas yang sempurna sehingga dalam melaksanakan ibadah apapun kita bisa melaksanakan niat hanya karena Allah semata. Tanpa mampu melaksanakan niat hanya karena Allah semata ibadah yang kita lakukan sia-sia, artinya ibadah kita hanya karena manusia yang akan menjadikan diri kita takabur, riya', dan dalam manghadapi ujian dari Allah dipastikan tidak akan lulus.
Untuk memudahkan kita dalam memahami dan melaksanakan ibadah Murah tapi Mahal ini, penulis akan menceritakan pengalaman teman penulis pada saat masih duduk di bangku SMP.
Sahabat penulis tersebut memiliki seorang kakek dan nenek, sebut saja namanya kakek dan nenek Zarkasih. Mereka merupakan keluarga nelayan yang sederhana. Bertahun-tahun mereka menabung untuk bisa melaksanakan ibadah haji. Mereka bahkan rela berpuasa berbulan-bulan. Sudah lebih 10 tadun mereka menabung. Menurut perhitungan uang yang mereka miliki sudah cukup untuk menunaikan ibadah haji. Dana ibadah haji tersebut lalu diserahkan kepada pengurus perkumpulan keberangkatan haji.
Lalu mereka menyiapkan segala sesuatunya untuk keperluan ibadah haji. Dalam tiga bulan semua persiapan sudah selesai, kecuali acara syukuran yang rencananya akan diadakan 10 hari sebelum keberangkatan dengan mengundang seluruh kerabat dan teman-teman mereka ke rumah. Tetapi apa yang terjadi? Pada saat keluarga besar mereka mengadakan syukuran, ada berita yang mengabarkan pimpinanjamaahyang mengurusi keberangkatan haji kaburmembawa dana jamaah.
Betapa terkejutnya dan marah mereka mendengar kabar tersebut. Sang nenek bahkan sempat menangis meraung-raung selama berjam-jam. Begitu pula sang kakek, ia bahkan sempat meluncurkan kata-kata kasar dari mulutnya. Mereka berdua sangat malu terutama pada masyarakat sekitar mereka. Kepergian haji yang telah digembar-gemborkan ternyata tidak jadi. Betapa malunya mereka sampai-sampai tidak mau keluar rumah. Mereka terus menangis, bahkan sang nenek sampai ingin bunuh diri.
Selama dua tahun mereka terus meratapi kejadian tersebut, sampai pada akhirnya mereka berdua jatuh sakit dan meninggal dunia.
Menurut cerita sahabat penulis, kakek dan neneknya adalah orang yang taat beribadah. Salat tahajjud setiap malam mereka lakukan. Puasa sunnah nabi Daud—sehari puasa, sehari tidak—juga mereka lakukan selama bertahun-tahun. Akan tetapi, mengapa mereka belifrn mampu menerima kenyataan bahwa mereka tidak bisa melaksanakan ibadah haji?
Setiap ada saudara atau anaknya datang berkunjung, sumpah serapah kepada orang yang membawa kabur uang mereka selalu mereka ucapkan. Begitu pula pada saat mereka berdoa. Mereka selalu bertanya; mengapa Allah tidak adil kepada mereka. Mereka sudah bersusah payah mengumpulkan uang untuk ibadah haji malah dibuat menderita dan mengapa orang jahat itu dilindungi oleh-Nya? Karena sampai saat itu, orang yang menipu mereka juga tidak diketahui keberadaannya.
Terkadang kakek Zarkasih berucap bahwa semua hal tersebut datangnya dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Tetapi dalam kenyataannya ia selaiu marah dan berucap kasar pada orang yang menipunya tersebut. Hal inilah yang selalu dibahas oleh sahabat penulis 'tersebut dengan penulis. Kakeknya terkadang marah, terkadang sadar dan kejadian ini terus terjadi hingga beliau meninggal.
Pertanyaan penulis pada saat itu adalah mengapa orang yang begitu taat beribadah sangat sulit untuk ikhlas menerima kenyataan?


Ini adminnya siapa ya? Kalau boleh tahu
BalasHapus